Oleh Didin
Sahidin**
Sungguh ironis, kendati usia NKRI sudah
mencapai lebih dari 65 tahun, kemiskinan dan keterbelakangan masih tetap bersemayam di bumi Indonesia. Terlebih mereka yang mendiami
daerah perbatasan.
Padahal
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Terhitung ribuan pulau
mulai skala kecil sampai besar berada di Indonesia. Kekayaan bumi berupa Sumber
Daya Alam (SDA) juga turut terkandung di dalamnya. Bahkan sampai ada anekdot
yang mengatakan jika bangsa Indonesia mau bertukar tempat dengan bangsa Jepang,
bangsa Jepang rela meninggalkan semua harta yang dimilikinya barang sedikit
pun. Sementara mereka rela datang ke Indonesia hanya bermodalkan jiwa dan raga.
Anekdot
tersebut sangat menyentil kesadaran kita. Karenanya, wajar jika Indonesia
populer dengan sebutan gemah ripah loh
jinawi atau juga surganya dunia. Begitu juga dengan para penduduknya. Lebih
dari 200 juta jiwa tumplek blek hidup
di bumi Indonesia. Beragam suku, etnis, tradisi, budaya dan agama ada di
dalamnya. Secara geografis, mereka hidup di berbagai pulau.
Mulai
dari pulau “terdalam” sampai pulau yang paling luar Indonesia. Mulai dari pulau
yang dekat dengan wilayah ibukota sampai pulau yang dekat dengan negara
tetangga. Oleh karena itu, melimpahnya SDA dan SDM yang ada di Indonesia,
mestinya berbanding lurus dengan kesejahteraan, kemakmuran dan kejayaan yang
diperoleh masyarakat.
Namun,
nasib berkehendak lain. Masyarakat Indonesia masih jauh dari tingkat
kesejahteraan. Karenanya, tingkat kemiskinan di Indonesia masih terhitung
tinggi. Menurut catatan BPS yang
dikutip Kompas (10/3), angka
kemiskinan pada 2010 mencapai 31,2 juta jiwa atau 13,33 persen. Itu pun baru
standar nasional. Tapi jika kita memakai standar garis kemiskinan yang berlaku
Internasional, yakni pendapatan USD 2 per hari, jumlah penduduk miskin masih 42
persen atau hampir 100 juta lebih. Ini hampir sama dengan total penduduk
Malaysia dan Vietnam digabungkan. Hal ini sangat miris dan ironis: “negera
kaya, rakyatnya sengsara”.
Belajar dari China
Menurut
Catatan BPS yang dikutip kompas (10/3), angka kemiskinan di China
semenjak tahun 1990 hingga tahun 2010 terus bergerak turun dari 70 persen
menjadi 21 persen.
Jika melihat
data tersebut, lantas apa yang dilakukan oleh China selama ini? Ternyata yang
dilakukan China adalah pembangunan pedesaaan. Jadi, China memfokuskan diri
untuk membangun pedasaan-pedasaan yang notabene adalah basis dari
kontong-kantong kemiskinan. Tentunya bukan program pengentasan kemiskinan yang
bersifat “kasih sayang” seperti yang dilakukan oleh negeri kita. Melainkan
program yang memiliki visi jauh ke depan.
Adapun
yang dimaksud dengan visi yang berorientasi ke depan yaitu bagaimana program
yang diupayakan tidak hanya sekedar mengangkat masyarakat dari kubangan
kemiskinan. Tapi bagaimana nantinya hasil dari program ini menciptakan kelas
menengah yang baru di pedesaan. Bagaimana kelas menengah-kelas menengah baru
muncul dan senantiasa terus merangkak naik dan bergerak secara massif kolektif.
Hasilnya, pemerataan kesejahteraan akan tercapai dan “peradaban” desa
benar-benar tercipta. Akibatnya hal tersebut akan berimbas secara nasional dan
melahirkan peradaban besar seperti yang kita lihat sekarang di China. Sekali
lagi, kemajuan dan terjunnya angka kemiskinan di China dimulai dari strategi,
kebijakan dan program yang menitikberatkan pembangunan di pedasaan.
Oleh
karena itu, strategi China membangun pedesaan tersebut nampaknya bisa menjadi
salah satu solusi alternatif dalam mengatasi kemiskinan yang melilit negeri ini
termasuk kemiskinan yang terjadi di daerah perbatasan. Masyarakat desa mesti
benar-benar kita perhatikan dan kita “kelola”. Sehingga tak mustahil kemiskinan
pun akan beranjak pergi dari bumi Indonesia. Namun, yang menjadi pertanyaan
adalah siapa yang akan membangun masyarakat di pedasaan? Siapa yang akan
menjadi pionirnya?
Tentu
kita masih ingat dengan kata-kata Bung Karno, “beri aku 10 pemuda, akan aku
goncang dunia”. Kata-kata tersebut memang terkesan melangit, tapi bukan berarti
mustahil menjadi realita. Bukan tanpa alasan bahwa pemuda adalah ujung tombak
dalam melakukan perubahan. Sejarah telah mencatat bahwa para pemuda adalah
pemimpin yang berada di garda depan dalam melakukan pelbagai aksi perubahan
besar di negeri ini, mulai dari sumpah pemuda sampai aksi ’98 dalam meruntuhkan
rezim Soeharto.
Lantas
persoalan selanjutnya adalah pemuda seperti apa yang dinilai cocok untuk
menjadi pioner pembangunan di desa? Jawabanya adalah pemuda yang berpendidikan
alias mahasiswa. Mahasiswa sebagai generasi muda terdidik adalah generasi
penerus bangsa dalam melanjutkan estafeta pembangunan dan perubahan. Paling
tidak, mahasiswa memiliki semangat lebih, fisik yang prima dan pola pikir lebih
maju ketimbang pemuda yang tak pernah mengenyam pendidikan. Oleh karena itu
mahasiswa menjadi salah satu motor penggerak dalam “mengangkat” pedesaan dari
lubang kemiskinan menuju kemajuan.
Dengan
terjunnya mahasiswa di desa bukan hanya sebagai bentuk partisipasi mahasiswa untuk
ikut serta dalam memajukan kesejahteraan umum sebagaimana amanat UUD 1945
tetapi juga sebagai bentuk kongkrit atau aksi nyata bukan retorika belaka atas
titel yang diemban mahasiswa yakni agent
social of change. Sehingga nantinya diharapkan masyarakat bisa benar-benar
“merangkak” perlahan-lahan menjadi maju, mandiri dan sejahtera. (*)
Program Kembali ke Desa
Program
ini penulis “design” karena terinsipirasi
dari gerakan “Indonesia Mengajar” yang digagas Anies Baswadan, Ph.D. Tapi
cakupannya bukan (hanya) pendidikan. Melainkan program yang lebih
menitikberatkan pada persoalan perekonomian masyarakat pedesaan. Program ini
saya gagas atas dasar ke prihatinan saya sendiri melihat kondisi di desa-desa,
terlebih desa yang berada di perbatasan yang masih jauh dari hidup sejahtera.
Masyarakat
desa hidup seadanya dan apa adanya. Implikasinya, kondisi desa menjadi
dilematis. Disatu sisi para penduduk desa lebih memilih mencari kerja ke kota
bahkan sampai ke luar negeri (TKI) untuk bisa hidup layak dan berharap hidup
sejahtera. Namun, di sisi lain mahasiswa (sekarang) justru terlihat cenderung
“gengsi” kembali ke desa. Atau justru malu dengan titel kesarjanaannya. Mereka
lebih memilih untuk berkarir (baca: bekerja) di kota karena tingkat harapan
hidup suksesnya lebih tinggi ketimbang di desa.
Akibatnya,
kondisi desa terbengkalai dan jauh dari sentuhan perubahan, apalagi desa yang
jauh dari pusat “peradaban” (daerah perbatasan). Karena itu program kembali ke
desa, menjadi salah satu solusi untuk mengajak mahasiswa terjun ke desa guna
membawa “angin perubahan” serta sebagai bentuk kongkrit atas titel yang diemban
mahasiswa yakni agent social of change dan
juga ikut serta dalam memajukan kesejahteraan umum sebagaimana amanat UUD 1945.
Dasar
dari program ini adalah bagaimana mahasiswa lulusan perguruan tinggi mengabdi
untuk negeri dengan mendedikasikan dirinya untuk membangun pedesaan. Bagaimana
mahasiswa (bukan hanya) yang berprestasi tapi berdedikasi untuk terjun ke
desa-desa yang notabene merupakan basis kemiskinan seperti di perbatasan.
Mahasiswa dituntut untuk membangun desa menjadi maju, berilmu dan sejahtera.
Jadi, bagaimana mahasiswa belajar, bekerja dan ikut berbaur bersama masyarakat
guna mengembangkan potensi desanya.
Bagaimana
masyarakat memiliki skill memadai
untuk lebih canggih dalam membangun desanya. Bagaimana masyarakat desa memiliki
ilmu mumpuni guna lebih cerdas dalam membangun desanya. Bagaimana mahasiswa
akhirnya benar-benar menjadi agen social
of change dalam artinya nyata bukan retorika belaka. Sehingga nantinya masyarakat bisa benar-benar “merangkak”
perlahan-lahan menjadi maju, mandiri dan sejahtera.
Jika
program “Indonesia Mengajar” berorientasi membangun pedesaan dari aspek
pendidikan maka program Kembali ke Desa bergerak
dalam upaya membangun perekonomian pedesaan. Bahkan bukan tak mungkin, dua
program tersebut bisa disinergikan satu sama lain. Sehingga nantinya bisa
berjalan bersama dan lebih mempercepat perubahan.
Program
ini tentunya tak akan sempurna jika hanya dilakukan oleh satu pihak. Karena itu
partisipasi, sinergi dan dukungan dari semua pihak khususnya pemerintah sebagai
penyelenggara negara amat penting guna kesuksesan program ini. Salah satunya
adalah penyaluran dana guna membangun infrastruktur, fasilitas dan aktivitas
Program Kembali ke Desa. Perlu dicatat, program ini bertujuan bukan
pragmatis atau pun instan belaka, tetapi
merupakan program jangka panjang dan memegang visi jauh ke depan yakni
melahirkan kelas menengah baru dari kantong-kantong kemiskinan.
(*)
*dimuat di majalah Literasia Edisi
Januari 2012
**Didin Sahidin, Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam Semister VII
0 komentar:
Posting Komentar