Oleh: Rusdiyanto**
“KRITIS” satu sifat
yang mungkin tidak bisa dipisahkan dari yang namanya Mahasiswa. Hal itu tidak
keliru, mengingat mahasiswa memiliki modal lebih dari pada masyarakat
kebanyakan baik dalam bidang keilmuan atau pun pengalaman. Perjalanan sejarah
bangsa ini, mulai dari kebangkitan nasional, kemerdekaan, hingga masa reformasi
menempatkan mahasiswa sebagai bagian yang memiliki peran penting. Para pemuda
pelajar tersebut selalu mempunyai ide cemerlang yang mampu mengubah peradaban
di setiap zamannnya. Perjuangan mereka pun merupakan usaha yang murni, dan
dipandang netral, bersih dan terbebaskan dari kepentingan-kepentikan apapun
yang bersifat pragmatis.
Romantisme tersebut masih kita banggakan dan masih dieleuk-elukkan
hingga saat ini-kita bangga dengan masa lalu mahasiswa yang begitu cemerlang.
Predikat “Agen Perubahan” pun masih kita yakini tersemat pada tiap diri kita.
Hingga kita tersadar dan perlu bertanya, masih pantaskah gelar kebanggaan itu
dihadiahkan pada Mahasiswa Zaman ini?
Sangat disayangkan, ketika kondisi negara ini dilanda masalah yang
semakin kompleks, peran mahasiswa justru mulai meredup. Kemajuan tekhnologi dan
akses informasi yang begitu mudah yang
seharusnya dijadikan modal dan insprasi mahasiswa untuk menuangkan
gagasan-gagasan cemerlang serta sarana kritik untuk membangun masa depan Bangsa
yang lebih baik, justru membuat mahasiswa terlena dan mengabaikan masa depan
bangsanya serta lupa akan pri-kemahasiswaannya yaitu “Kritis”.
Kini, mahasiswa terjebak pada pola kehidupan populer yang lebih
cenderung pada obsesi keakuan dari pada motivasi untuk kontribusi sosial.
Mahasiswa hanya terfokus pada kuliah tanpa ada sumbangsih pemikiran yang
membangun. Mahasiswa sudah tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu dengan kondisi
sekitarnya. Oleh karena itu, tidak keliru jika mahasiswa masa kini, dinilai
tidak memiliki keberanian dan kemampuan serta kepedulian mengeluarkan pendapat
dan pemikiran ke publik. Aksi-demonstrasi yang dilakukan tampak hanya
seremonial dan formalitas belaka yang muncul hanya untuk memperingati moment tertentu.
Lebih parah lagi, mahasiswa saat ini terjebak pada budaya populer,
di mana segala informasi dan kebijakan langsung diterima mentah-mentah, tanpa
diproses, diverifikasi, dan didalami dengan logika kerja pikiran. Kondisi ini,
terlihat misalnya diberbagai kampus dimana banyak mahasiswa yang tidak peduli
dengan kebijakan yang diterapkan serta tidak peduli dengan keberadaan
pemerintahan kampus, misalnya BEM, DEMA, dan yang lainnya. Jika pada kebijakan
dan kondisi kampusnya saja tidak peduli bagaiamana dengan kebijakan pemerintah
dan kondisi bangsa dan negara ini?
***
Tidak diragukan, bahwa masa depan bangsa ini berada ditangan
generasi muda saat ini. Mahasiswa sebagai generasi muda terpelajar adalah yang
paling menentukan dan paling bertanggun jawab terhadap masa depan bangsa ini.
dalam sebuah tulisannya Busjro Maqaddas mengatakan “jika akan merusak bangsa dan negara, rusakkah
mahasiswa!. Bawa mereka ke alam pikir serba instan dengan ciri-ciri :cepat
lulus,cepet kerja, gaji besar, rumah mobil mewah, hoby diskotik, pub, café,
gaya hidup metropolitan. Pendeknya: Penghamba materealisme. Jauhkan mahasiswa
dari kecendrungan memiliki kepekaan dan empati sosial, tak tersentuh dengan
jungkir balik orang tua pencari rizki demi masa depan anak, tak peka terhadap
empat puluh juta si miskin yang terzalimi oleh sistem sosial yang korup, tak
peduli terhadap mental dan laku bohong pejabat dan penguasa, bahkan tak peka
mengenali dirinya sendiri”.
Oleh karena itu, jika ingin membangun masa depan bangsa dan negara
ini yang lebih baik, Tidak lain, mahasiswa harus kembali kepada fitrahnya yaitu
“Kritis”. Tentu, dalam kontek sekarang kritis tidak mesti diartikan mahasiswa
harus Aksi-Demonstrasi, melainkan harus mampu memanfaatkan media untuk menyampaikan
gagasan dan koreksi kritisnya. Kondisi
saat ini membutuhkan Semangat-semangat yang berkobar terpatri dalam diri
mahasiswa, semangat yang mendasari perbuatan untuk melakukan
perubahan-perubahan atas keadaan yang dianggapnya tidak ideal. Mimpi-mimpi
besar akan bangsanya. Intuisi dan hati yang selalu menyerukan idealisme.
Mahasiswa yang tahu, apa yang ia harus diperbuat untuk masyarakat, bangsa dan negaranya.
Mahasiswa dengan netralitas, idealitas, intelektualitas dan
integritas yang dimiliki harus mampu mengambil peran dan mengusai opini publik dengan
prinsip selalu berpihak pada kebenaran dan keadilan. Dengan begitu, masa depan
bangsa-negara ini dijamin akan lebih baik, dan Label “Agen Perubahan” menjadi
patut untuk disematkan pada mahasiswa saat ini. tetapi hal itu tidak cukup,
mahasiswa juga harus mampu menjadi “aktor perubahan”, serta tetap konsisten
menjadi “pengawal” kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah tanpa harus
terbebani sejarah masa lalu dan kepentingan-kepentingan pragmatis siapapun.
*dimuat di Majalah Literasia Edisi
Januari 2012
**Rusdiyanto adalah Mahasiswa SKI angakatan 2009.
Saat ini Menjabat sebagai Ketua Umum HMI MPO Komisariat
Fakultas Adab dan Ilmu Budaya.
0 komentar:
Posting Komentar